Categories
Pendidikan

Hukum Menikahi Saudara Kandung Dalam Islam

Hukum Menikahi Saudara Kandung Dalam Islam

Assalamu’ alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh? Bicara mengenai pernikahan, sebenarnya ada tata cara dan aturan yang diberlakukan dalam setiap masing masing pemeluk Agama. Di Negara Indonesia sendiri, terdapat empat Agama besar yang tersebar dan tentu saja memiliki aturan yang berbeda dalam segi pernikahan. Juga tentang Hukum Menikahi Saudara Kandung.

Ini kemudian secara umum disusul dengan aturan yang ditetapkan dalam pemerintahan yang berlaku di Negara masing masing tentang pernikahan yang dianggap syah secara Hukum Ketatanegaraan selain hukum dalam Agama. Tentu saja berdasarkan aturan aturann yang diberlakukan tersebut harus ditaati oleh warga negara yang ingin menikah secara syah dalam Agama dan Pemerintahan.

Hukum yang diberlakukan bukan dengan tujuan untuk mengekang ataupun mempersulit bagi pasangan yang ingin menikah. Namun hal ini diberlakukan untuk mengatur dalam hal keabsyahan suatu pernikahan dan menghindari hal hal yang tidak diperbolehkan, seperti misalnya menikah dengan berbeda agama, yang dalam Hukum Agama Islam hal ini tidak diperbolehkan atau dengan kata lain dilarang. Bukan hanya dalam Islam saja, menurut agama lain juga jelas mengatur mengenai pernikahan berbeda Agama ini. Namun kali ini, kita akan membahas tentang Hukum yang mengatur tentang Menikahi Saudara Kandung sendiri.

Namun sebelumnya kita fahami lebih dulu soal pendapat Hukum Menikah, simak penjelasannya berikut ini.

Pendapat Tentang Hukum Menikah

Ada berbagai pendapat dalam memandang soal Pernikahan atau Perkawinan, ada yang berpendapat bahwa Menikah itu merupakan suatu Ibadah yang jika dilakukan maka akan mendapatkan kebekahan, ada yang menilai Pernikahan adalah suatu hal yang sakral dan sekali dalam seumur hidup, ada yang berpendapat menikah itu tidak menjadi soal jika melakukannya lebih dari satu kali atau dengan kata lain berpoligami.

Apapun itu, sebenarnya tujuan utama dari menikah adalah untuk mempersatukan dua hati yang berbeda dan menghindari fitnah ataupun dosa yang diakibatkan oleh hawa nafsu yang tidak terkendali.

Namun menurut pandangan dari Ibnu Rusyd yang menjelaskan mengenai Pernikahan ialah : Segolongan Fuqoha atu Jumhur/ mayoritas utama yang berpendapat jika hukum dalam menikah tersebut adalah Sunnah.

Berbeda dengan golongan Zhahiriah yang memiliki pendapat berlawanan yaitu pandangan tentang Hukum Menikah itu adalah sesuatu yang Wajib.

Perbedaan pendapat dari Ulam Malikiyah Mutakhirin, bahwa Hukum Menikah itu Mubah bagi sebagian orang, Wajib bagi sebagian orang, dan Sunnah bagi sebagian orang yang lainnya.

Dari berbagai pendapat diatas, apakah berbeda pula pandangan tentang Hukum Menikah dengan saudara kandung? Untuk lebih rincinya simak penjelasannya berikut ini :

Hukum Tentang Menikahi Saudara Kandung Sendiri

Dalam aturan Agama Islam yang diberlakukan, bahwa Menikahi Atau Mengawini saudara kandung sendiri tidak diperbolehkan atau dengan kata lain dilarang!

Menurut pendapat dari para Ulama Islam, yang telah menyepakati atau menyetujui atas larangan terhadap Pernikahan dengan Saudara kandung Sendiri. Hal ini dikatakan Haram dalam Hukum Agama Islam. Seperti Firman ALLAH SWT, yaitu :

Dikatakan juga, bahwa apabila ada seorang pria yang telah melakukan Pernikahan Sedarah atau Menikah dengan Saudara Kandungnya sendiri tanpa mengetahui atau telah terlanjur melakukan pernikahan tanpa tahu yang dinikahi tersebut adalah Saudara kandungnya.

Namun kemudian terbukti bahwa keduanya masih Saudara dengan bukti yang kuat, maka pernikahan tersebut harus dipisahkan secara Hukum yang diberlakukan. Dan apabila si Wanita sedang hamil, maka kelak anak yang dilahirkan ternasab serta disambungkan pada Ayah Biologis dari anak tersebut.

Kemudian Si Wanita tersebut tadi, akan diperlakukan secara Iddah Subhat serta Mahar Mitsil atau dengan kata lain Mas Kawin bagi kebiasaan untuk Wanita yang sederajatnya sesuai dengan kebiasaan dari daerah masing masing. Itu berarti mahar disini bukanlah mahar yang tersebut disaat pernikahan mereka terdahulu.

Kemudian untuk hukum yang diperlakukan atas senggama semacam ini adalah hukum pernikahan sebagaimana biasanya. Dengan artian menjalin ikatan kekeluargaan akibat pernikahan dan hubungan persaudaraan yang jelas tidak mempernagruhi hukum halalnya, jika dilihat berkhalwat dan pembatalan atau membatalkan wudhu dari keduanya.

Bagi Si Pria diharamkan untuk menikahi Biang Wanita yang dimaksud atau dengan kata lain, haram untuk menikah dengan Ibu/ Nenek/ dan seterusnya. Kemudian diharamkan untuk si Pria untuk menikahi keturunan yang diakibatkan oleh persetubuhannya.

Begiutu juga hal ini berlaku untuk Si Wanita, yang diharamkan untuk dinikahi dari biang dan keturunan anak akibat dari persetubuhannya. Namun dihalalkan jika melihat mahram yang disebut diatas dengan aturan tidak syahwat.

Dalam hal ini tidak menjadi ketentuan yang dikhususkan, yang paling penting ialah telah terjadinya perkawinan diantara wanita dan pria yang masih ada ikatan persaudaraan sedarah atau mahram. Baik itu persaudaraan atas dasar keluarga, perkawinan, atau tunggal susu.

Seperti Sabda Rosulullah SAW, yaitu :

“ Sungguh ALLAH SWT akan mengampuni atas umatku karena tiga hal keliru ( Tanpa Sengaja ), Lupa, Dan Segala Sesutau yang dilakkukan karena terpaksa. ( HR. Ibnu Majah Dan Baihaqi R.A Dari Ibnu Abbas )”.

Demikianlah ulasan kita kali ini Mengenai Hukum Menikahi Saudara Kandung Dalam Islam, yang telah kita kupas dalam jumpa baca kali ini. Harapan kami tentu saja ini dapat menambah Ilmu pengetahuan bagi kita sesama Umat Islam dan dapat memberi manfaat untuk kebaikan kita semua. Terus ikuti artikel menarik kami yang lainnya, berisi tentang Ilmu Pendidikan dan Pembelajaran Agama yang telah kami rangkum sedemikian rupa untuk kalian baca. Terimakasih dan Wassalammu’ alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *